Percaya Saja Belum Cukup, Ini Seharusnya Dilakukan Agar Tidak Menyesal Setelah Menikah

0
Source:

Menikah merupakan topik yang selalu membuat para muda-mudi mendesirkan hati ketika mendengarnya. Khususnya bagi mereka yang sangat mengimpikan dan mengidamkan menikah dengan pasangan yang amat dicintainya. Kebanyakan pasangan menikah karena percaya kepada pasangan atau percaya kepada seseorang yang menjodohkannya. Jalan nikah diambil setelah melalui sekenario yang panjang terkhusus persetujuan wali mempelai masing-masing.

Menikah bukanlah perkara main-main yang bisa dicoba-coba layaknya sebuah cashing hp yang mudah dipasang dan dilepas sesuka hati. Ia adalah ikatan suci yang sewajarnya diikrarkan untuk tetap bersama sampai maut memisahkan. Berhubung pernikahan itu sakral, sudah seharusnya kedua pasangan memikirkan matang-matang aoakah menikahinya sudah keputusan yang tepat dan tidak menimbulkan penyesalan nantinya.

Para pasangan, khususnya atas nama cinta menstimulasi akal fikirnya untuk percaya pada pasangan. Kepercayaan itu berdampak pada kerelaan menerima sosok pasangan apa adanya. Namun apakah sama ceritanya jika hal buruk ternyata dibawa oleh pasangan bahkan sebelum mereka menikah? Apakah salah seorang mempelai pengantin bisa menerima jika ia tahu bahwa calonnya terindikasi mandul atau ipoten? Calonnya masih memiliki suami atau istri yang sah, atau bahkan calonnya terjangkit virus HIV?

Bukan maksud menakut-nakuti tapi ini harus dipertimbangkan agar pernikahan dapat terjadi dengan ideal. Bukankah rasul menyuruh kita untuk mengetahui silsilah pasangan sebelum memutuskan untuk menikah? Ini berarti kita juga harus mencari tahu seperti apa pasangan kita melalui orang terdekat yang mengenal seperti apa sosok pasangan kita sebenarnya.

Sebagai solusinya, ini yang seharusnya dilakukan agar menikah tidak menyesal dikemudian harinya;

1. Cek dan Tes Kesehatan Bersama

Hal yang sering dilakukan dalam tes masuk perguruan tinggi atau badan militer adalah uji kesehatan. Tapi ini jarang dilakukan oleh pasangan yang berencana menikah. Padahal, sejatinya pernikahan itu tak kalah penting dibanding pendidikan dan pekerjaan. Pernikahan ibarat pintu kehidupan baru yang lazimnya hanya sekali dimiliki seorang individu dalam usianya yang terbatas.

Dengan adanya tes medis lengkap, masing-masing pasangan akan tahu apakah calonnya memiliki virus HIV atau sejenisnya yang tentunya dapat merusak atau menularkan pasangan yang sebelumnya sehat-sehat saja. Atas nama cinta, pasangan bisa saja menerima calon apa adanya dan bersama memutuskan pengobatan sebelum menikah, akan tetapi apakah cinta masih berbicara jika HIV yang ada pada calon pengantin disebabkan karena ia gemar gonta-ganti pasangan?

2. Cek Sperma atau Rahim

Salah satu penyebab seringnya terjadi kasus perceraian atau poligami bahkan perselingkuhan adalah karena pasangan pernikahan tidak kunjung dikaruniai keturunan. Anak adalah permata hati, cahaya keluarga, dan alasan kuat mengapa sepasang kekasih tetap bersama sampai akhir hayatnya. Kendatipun ada diantara beberapa oknum yang mungkin jenuh atau tidak cocok lagi dengan pasangannya, anak menjadi alasan utama hingga mereka tidak memutuskan untuk bercerai. Mereka lebih memilih bertahan agar anak tidak menderita dan kekurangan kasih sayang.

Begitu pentingnya memiliki anak sudah seharusnya sebelum menikah untuk mengecek kualitas sperma bagi laki-laki dan kualitas rahim bagi wanita. Secara formal ini adalah hal yang tabu, akan tetapi ini aspek penting agar menikah tidak saling menyalahkan nantinya bila belum mempunyai keturunan. Jika secara medis kedua pasangan berpotensi memiliki keturunan bukankah itu kabar gembira? Jika tidak, masing-masing pasangan dapat menentukan kembali apakah rencana pernikahan masih dapat dilanjutkan atau tidak.

3. Cek Ipoten atau Hasrat Seksual

Hal yang tak kalah penting dalam menikah adalah mengetahui apakah pasangan bisa melakukan hubungan suami istri nantinya atau tidak. Ini bukan berlebihan, akan tetapi solusi dalam kebahagiaan berumah tangga. Ingat, menikah adalah ikatan yang menghalalkan hubungan suami istri, jika salah satu pasangan tidak bisa memenuhi kebutuhan tersebut berarti secara kondisi ia belum layak menikah secara lahir dan batin.

Perlu dipahami, mengecek Ipoten disini harus dilakukan secara halal dan oleh bantuan pihak medis kesehatan. Itu berarti mengecek hasrat seksual dengan cara melakukan hubungan haram sebelum menikah, walaupun bersama pasangan yang dicintai itu tentu dilarang. Ingat, pasangan yang ipoten jika ia menikahi pasangan yang normal maka sama saja ia menyiksa pasangannya. Solusinya jika ia memang ipoten maka ia harus jujur pada pasangan, apakah ia diterima sambil berobat atau tidak sebelum memutuskan untuk menikah.

4. Mengenal Betul Setatus Sosial Pasangan

Apa yang anda rasakan jika istri/suami anda kelak memiliki ikatan pernikahan yang masih sah sebelumnya dengan pihak lain? Ini tentu masalah yang sangat serius yang harus diantisipasi. Hal ini dapat dicegah bila anda juga ikut serta dalam pendaftaran pernikahan di KUA setempat. Jika pasangan anda pernah menikah secara legal tentu ia akan terdata dalam catatan sipil pemerintah. Ia tidak bisa membohongi anda atau mengakali pihak KUA untuk menikah kedua kalinya disaat masih ada pasangan sebelumnya sebab anda juga ikut mengurusnya.

Jika calon pasangan anda melakukan pernikahan secara syiri, itu dapat diketahui dengan cara mengenal lebih dalam silsilah keluarga pasangan anda, mengenal teman pasangan, atau lingkungan pasangan. Seperi diawal sudah dijelaskan, ini bukan bermaksud menakut-nakuti pelaksanaan pernikahan, namun tidak ada salahnya dicoba mengingat dizaman edan seperti sekarang banyak hal-hal aneh bisa terjadi. Lebih baik anda telat menikah dibandingkan menyesal setelah menikah.