14 Tokoh Emansipasi Wanita dari Tanah Rencong

0
Source: -

Sejarah mencatat, pada masa lalu Aceh pernah memiliki wanita-wanita besi dalam pemerintahan dan singa betina perkasa yang ditakuti lawan dalam pertempuran dimedan perang.

 

Namun sayangnya tidak banyak terekspos media dan buku sejarah disekolah-sekolah. Sehingga banyak generasi muda saat ini yang melupakan atau bahkan tak pernah tau sama sekali tentang keberadaan mereka.

 

Penulis mencoba untuk mengumpulkan beberapa diantaranya dalam bentuk sejarah singkat yang saya sarikan dari beberapa literatur kuno dan buku sejarah lama.

 

Pada artikel kali ini, penulis khusus mengangkat wanita-wanita besi dan singa betina dari Tanah Rencong yang terlupakan sejarah.

 

Insya Allah dilain waktu penulis akan mengekspos singa-singa jantan Aceh yang tak kalah garangnya.


Artikel ini khusus penulis persembahkan untuk wanita-wanita Aceh agar lebih mengenal tokoh-tokoh emansipasi wanita dari Tanah Rencong yang patut kita banggai dan yang seharusnya lebih patut diteladani.


Mohon maaf bila ada kesalahan/ kekurangan dalam penulisan maupun keterangan karna ada beberapa perbedaan cerita sejarah dalam beberapa literatur yang saya baca, disamping minimnya literatur yang saya temui. 


Saya sangat berharap pemerintah daerah atau peneliti sejarah dapat merilis sebuah buku sejarah wanita Aceh dalam versi yang lengkap dan lebih sempurna lagi supaya tokoh-tokoh emansipasi wanita Aceh tidak benar-benar hilang ditelan waktu. 


7 Wanita Besi Aceh dalam Pemerintahan


Putroe Lindoeng Buleun dan Misteri tewasnya Patih Gajah Mada ditanah Rencong

Putroe Lindoeng Buleun (Puteri Sri Kandee Negeri/Puteri Meuga Gema) adalah puteri dari Raja Muda Sedia yang memerintah Kerajaan Islam Benua Tamieng.

 

Menurut sejarah, sang puteri memiliki paras yang sangat cantik jelita. Sehingga menarik hati dari Parabu Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit dan memerintahkan Patih Gajah Mada untuk menaklukkan kerajaan Islam Benua dan membawa Putroe Lindoeng Buleun ke Majapahit.

 

Meskipun tidak terjun langsung dalam peperangan maupun pemerintahan tapi Putroe Lindoeng Buleun banyak membantu ayahnya dalam berbagai urusan kerajaan dan konon menurut beberapa riwayat menjadi salah satu penyebab tewasnya Patih Gajah Mada ditangan panglima perang Tuanku Ampon Johan ketika menyelamatkan sang puteri dari tawanan sang patih di Buket Seulamat.

 

Ada juga riwayat yang mengisahkan bahwa sebenarnya yang tewas bukan Patih Gajah Mada tapi Patih Nala.

 

Terlepas dari itu semua, yang jelas salah seorang punggawa Majapahit tewas demi sang Putroe Lindoeng Buleun.

 

 

Ratu Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu

Beliau adalah Sulthanah terakhir dari Kerajaan Islam Samudera Pasai. Ratu Nihrasiyah merupakan penyempurna pembangunan kerajaan sebelum kemudian Kerajaan Pasai bergabung dengan Kerajaan Aceh Darussalam.


Makam Ratu Nihrasiyah terletak dalam komplek Makam Raja-Raja Samudera Pasai. Bila dilihat dari keindahan makam yang terbuat dari batu pualam dengan ukiran kaligrafi ayat-ayat suci Alqur-an tentunya sang Ratu adalah seorang Ratu besar yang sangat dikagumi. Beliau adalah putri dari Sulthan Zainal Abidin Malikudz Dzahir.


Putroe Phang

Beliau adalah salah seorang putri dari Kerajaan Pahang yang dinikahi oleh Sulthan Iskandar Muda. Meskipun beliau bukan seorang pemimpin tapi beliau mempunyai andil yang cukup besar dalam pemerintahan suaminya kala itu dengan memangku jabatan pada kekuasan legislatif.


Seperti dalam hadih madja yang sering kita dengar "Adat bak Poteu Meureuhoom/ Sulthan (kekuasaan ekskutif, politik dan adat), Hukom bak Syiah Kuala (kekuasaan yudikatif), Qanun bak Putroe Phang (kekuasaan legislatif), dan Reusam bak Lakseumana.


Ratu Safiatuddin (Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin)

Beliau adalah keturunan dari Sulthan Iskandar Muda Meukuta Alam yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam setelah suaminya Sulthan Iskandar Tsani wafat.

 

Sang Ratu sangat faham akan ilmu fiqih, tata negara, sejarah, mantik, falsafah, tasawuf, sastra, dan menurut riwayat beliau mampu menguasai beberapa bahasa selain bahasa Aceh, yaitu bahasa Arab, Persia dan Spanyol.

 

Dimasa pemerintahan beliau Kerajaan Islam Aceh Darussalam kembali mengalami puncak kejayaan yang kedua kali setelah Sulthan Iskandar Muda, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan, dan pada masanya ibukota Kerajaan Aceh Darussalam menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan di Asia Tenggara.

 

Sebelum beliau wafat, beliau sempat menyiapkan tiga orang calon ratu yang akan menggantikan beliau nantinya dengan perbekalan segala bidang ilmu dan berbagai bahasa asing, yaitu: Naqiatuddin, Zakiatuddin, dan Kamalat Syah.


Ratu Naqiatuddin (Sri Ratu Nurul Alam Naqiatuddin)

Beliau memerintah setelah Ratu Safiatuddin wafat, ada yang mengatakan beliau adalah salah seorang putri bangsawan yang dipersiapkan oleh Ratu Safiatuddin untuk menggatikan dirinya sebelum beliau wafat. Ada juga yang mengatakan beliau adalah anak/ anak angkat dari Ratu Safiatuddin.

 

Dimasa pemerintahannya terjadi kekacauan dalam negeri dengan pemberontakan dari kaum wujudiah (yang diperalat dari golongan politik oposisi yang mengatakan kalau kaum wanita tidak boleh memimpin negara).

 

Kaum wujudiah berhasil membumihanguskan ibu kota negara dengan membakar Mesjid Raya Baiturrahman dan Keraton Darud Dunia, selain itu ancaman lain datang dari upaya kristenisasi oleh imperialis barat (Inggris, Portugis dan Belanda).

 

Akibat dari pemberontakan dan sabotase dari kaum wujudiah segala rencana sang ratu pun dibuat berantakan sampai dengan beliau wafat setelah memimpin selama dua tahun.


Ratu Zakiatuddin (Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah)

Beliau memerintah setelah Ratu Naqiatuddin wafat. Sama halnya dengan ratu sebelumnya, beliau adalah salah seorang putri yang telah dipersiapkan oleh Ratu Safiatuddin.

 

Pada masa pemerintahannya sang ratu melakukan tindakan yang keras dan tegas terhadap pemberontakan kaum wujudiah dan ancaman dari luar, terutama dari VOC Belanda.

 

Selain itu beliau juga kembali memajukan ilmu pengetahuan dan perdagangan setelah sempat vakum pada pemerintahan sebelumnya.

 

Salah seorang utusan dari Mekkah mengatakan bahwa saat mereka mendapat kesempatan untuk bertemu dengan ratu, mereka melihat istana sang ratu dikelilingi pasukan pengawal perempuan berkuda. Hiasan pada kuda itu dari emas, suasa dan perak.

 

Sang Ratu berbicara dengan diplomatis dalam bahasa arab yang fasih dibalik tabir sutera. Sulthanah pun menitipkan hadiah untuk dibawa kepada Syarif Mekkah, Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi berupa: Tiga Kinthar emas murni yang masih bergumpal-gumpal, dan beberapa barang lain yang terbuat dari emas.

 

Subhanallah, Allahu Akbar... Suatu prestasi emansipasi dan peradaban Aceh yang sangat luar biasa dimasa lalu.


Ratu Kamalat Syah (Sri Ratu Kamalatuddin Inayat Syah)

Setelah Ratu Zakiatuddin memerintah selama sepuluh tahun dan wafat, pemerintahan digantikan oleh Ratu Kamalat Syah. Beliau adalah wanita terakhir yang dipersiapkan oleh Ratu Safiatuddin.

 

Pada awal pemerintahannya sang ratu nyaris tersingkir dari istana akibat pemberontakan dalam negeri oleh kaum wujudiah yang kembali muncul setelah Ratu Zakiatuddin wafat.

 

Dalam masa pemerintahannya juga terjadi persengkongkolan rahasia antara kaum wujudiah, ulee balang dan dua orang utusan dari makkah pada masa Ratu Zakiatuddin yang menetap di Aceh.

 

Menurut salah satu riwayat mereka membuat sebuah surat palsu yang seolah-olah dikirim oleh Syarif Makkah yang mengatakan bahwa seorang wanita tidak boleh memimpin negara, maka sang Ratu pun turun dari tahta dan digantikan oleh Syarif Hasyim (salah satu dari dua orang utusan dari Makkah yang menetap di Aceh) dengan gelar Sulthan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamalul'lail. Dan Ratu Kamalat Syah wafat tujuh tahun kemudian.


7 Singa Betina Aceh di Medan Perang


Laksamana Keumalahayati/ Malahayati

Seorang janda muda yang memimpin pasukan Armada Laut Inong Balee di Kerajaan Aceh pada masa pemerintahan Sulthan Alaiddin Riayat Syah Saidil Mukammil.

 

Menurut sebuah catatan beliau termasuk salah satu keturunan dari pendiri kerajaan Aceh, yaitu Sulthan Ibrahim Ali Mughayat Syah. Ayah beliau adalah Mahmudsyah, seorang laksamana perang juga.

 

Ide beliau membentuk pasukan wanita janda tersebut adalah sebagai ajang para janda untuk menuntut balas kematian suaminya dimedan pertempuran. Kehebatannya dalam memimpin angkatan perang diakui oleh negara Eropa, Arab, China dan India.


Cut Nyak Dhien

Nama beliau sudah tidak asing lagi ditelinga kita karena sudah diangkat menjadi pahlawan nasional, beliau adalah keturunan bangsawan ulee balang dan sempat menggantikan posisi ayahnya menduduki jabatan ulee balang setelah ayahnya meninggal.

 

Dalam medan pertempuran melawan penjajah belanda beliau memimpin langsung pasukan tempur Teuku Umar suaminya (setelah suaminya wafat) selama 16 tahun sebelum akhirnya beliau dikhianati oleh orang terdekatnya dan diasingkan ke Sumedang oleh Belanda dalam kondisi buta sampai beliau wafat.


Teungku Fakinah

Seorang ulama wanita yang memimpin sebuah resimen dalam perang Aceh. Beliau adalah keturunan ulama dan bangsawan, beliau juga sempat mendirikan sebuah Lembaga Pendidikan Islam Dayah Lam Diran.


Cut Nyak Meutia (Cut Meutia)

Beliau melanjutkan perjuangan suaminya yang dijatuhi hukuman tembak oleh Belanda, beliau bergerilya dihutan Pase bersama pasukannya melawan penjajah Belanda selama 20 tahun dan beliau syahid dimedan pertempuran karna sumpahnya tidak akan menyerah kepada belanda dalam keadaan hidup.


Pocut Baren

Seorang pejuang wanita keturunan bangsawan yang bertempur dengan Belanda bertahun-tahun dan beliau akhirnya ditawan oleh Belanda setelah terluka parah dalam mempertahankan bentengnya.


Pocut Meurah Intan (Pocut Biheu)

Pejuang wanita dari keturunan Kesultanan Aceh, beliau bercerai dengan suaminya karna menyerah pada belanda lalu beliau berjuang bersama putra-putranya bertempur melawan penjajah belanda selama bertahun-tahun sampai akhirnya beliau tertangkap belanda dalam keadaan luka parah dan diasingkan ke Blora oleh belanda bersama satu orang putranya.


Cutpo Fatimah

Beliau adalah teman seperjuangan Cut Meutia dan beliau merupakan putri dari seorang ulama besar Tgk. Khatim (Tgk. Chik Mata Ie).

 

Bersama dengan suaminya Tgk. Dibarat melanjutkan perjuangan melawan belanda setelah Cut Meutia dan suaminya syahid dimedan perang. Dan beliau akhirnya syahid dimedan perang bersama suaminya.


Semoga artikel ini bisa membangkitkan kembali jiwa patriotisme dan nasionalisme dalam diri generasi muda untuk membangun Aceh dan mengembalikan Aceh ke puncak kejayaannnya seperti pada beberapa puluh dan ratusan tahun yang lalu.


Jiwa patriotisme dan nasionalisme tidak selamanya mesti diwujudkan dan disikapi dalam bentuk peperangan tapi masih banyak yang bisa dilakukan dan implementasikan dalam berbagai aspek kehidupan. 


Mulailah dari sekarang, dari hal yang paling kecil, dari keluargamu, dengan mendidik putra putrimu untuk mengukir prestasi dan menjadi wanita-wanita besi, singa-singa betina dan singa jantan masa kini yang akan mengukir sejarah dimasa yang akan datang, yang akan mengembalikan kejayaan Aceh yang sudah mulai padam. 


Bangkit dan Bangunlah dari tidurmu wahai para Wanita Aceh... 


Guncangkan dunia dengan karya dan prestasimu...!!


Reference:

- Djeumpa Atjeh, H.M. Zainuddin (1958)

- Tarich Atjeh dan Nusantara, H.M. Zainuddin (1961)

- 59 Tahun Atjeh Merdeka dibawah Pemerintahan Ratu, A.Hasjmy (1977)

SHARE
Previous article ACEH Daerah Modal, Sejarah yang Hilang dan Terlupakan
Next article Penghormatan Merah Putih yang Sudah Jarang Ditemukan